Pangan Lokal Sebagai Pondasi Mewujudkan Ketahanan Pangan

Nasional10 Dilihat

Nina Sawitri                                                               Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang

SWARABUANA.COM – Secara sederhana, ketahanan pangan adalah kondisi ketika setiap orang, kapan saja, memiliki akses fisik dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, serta bergizi untuk hidup sehat. Namun, tantangannya hari ini semakin nyata. Perubahan iklim yang ekstrem, alih fungsi lahan pertanian, hingga ketergantungan pada pangan impor membuat sistem pangan menjadi rapuh.

Data dari berbagai lembaga, termasuk Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa Indonesia masih harus mendatangkan sebagian komoditas pangan dari luar negeri. Kondisi ini tentu menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan nasional belum sepenuhnya mandiri. Jika rantai pasok global terganggu, kita adalah pihak yang rentan merasakan dampaknya berupa lonjakan harga di pasar.

Strategi utama ketahanan pangan di Indonesia difokuskan pada pencapaian swasembada, modernisasi pertanian dan diversifikasi sumber pangan lokal. Konsumsi pangan lokal adalah salah satu solusi yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Ketahanan pangan melalui pangan lokal adalah strategi pemenuhan kebutuhan gizi dan karbohidrat masyarakat dengan mengandalkan potensi dan sumber daya alam daerah sendiri tanpa bergantung sepenuhnya pada satu komoditas atau impor. Ketahanan pangan dapat dibentuk melalui kebiasaan menghargai, menanam dan bijak mengonsumsi pangan lokal sendiri.

Membangun ketahanan pangan tidak harus menunggu punya lahan berhektar-hektar. Kita bisa memulainya dari rumah, seperti pemanfaatan lahan pekarangan, diversifikasi menu dan mengurangi sisa makanan (food waste). Mengonsumsi pangan lokal merupakan bentuk kedaulatan agar kita tidak bergantung pada satu komoditas saja. Seian itu, mengkonsumsi pangan lokal  berarti ikut serta serta dalam menggerakkan ekonomi, memberdayakan petani, nelayan dan pelaku usaha UMKM di daerah, sekaligus ikut melestarikan budaya berupa kearifan lokal dan tradisi pangan khas daerah nusantara. Bagi konsumen, pangan lokal memiliki keunggulan berupa harga yang lebih terjangkau, lebih segar, mudah diperoleh dan mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

Indonesia kaya akan beragam sumber pangan. Badan Riset dan Inovasi Nasional terus memetakan potensi pangan lokal ini sebagai fondasi ketahanan yang berkelanjutan. Upaya daerah dalam mewujudkan ketahanan pangan dilakukan melalui peningkatan produktivitas pertanian lokal, optimalisasi pemanfaatan lahan, serta penguatan distribusi dan penganekaragaman konsumsi pangan. Provinsi Riau, selain kaya akan hasil perkebunan, juga kaya akan pangan lokal, salah satunya kabupaten Indragiri Hilir. Pangan lokal yang ada di Kabupeten Indragiri Hilir meliputi tanaman pangan seperti padi dan sagu, sayuran, buah-buahan dan hasil perikanan.

Contoh pangan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan adalah beras lokal. Sentra produksi beras lokal tersebar di berbagai wilayah kabupaten Indragiri Hilir. Produksi beras lokal diharapkan mampu mencukupi kebutuhan beras daerah. Beras yang berasal dari benih lokal memiliki kualiatas yang baik dan mampu bersaing dengan beras impor. Beberapa jenis beras lokal yang populer dikonsumsi masyarakat adalah jenis pagar sari dan pandan wangi.

Benih lokal ini memiliki ciri khas berupa tekstur, aroma dan cita rasa yang berbeda dengan jenis beras di daerah lain maupun beras impor. Bagi petani, kegiatan budidaya padi dengan menggunakan benih lokal juga lebih mudah dan murah karena benih ini umumnya sudah mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan setempat. Sampai saat ini, budidaya padi dengan benih lokal tetap dipertahahankan oleh petani karena harga yang bersaing serta permintaan yang tinggi dari dalam dan luar daerah.

Unsur kearifan lokal juga ikut mempengaruhi persepsi petani terhadap budidaya padi benih lokal. Selain padi, sagu juga menjadi pangan lokal yang layak untuk dikembangkan. Di beberapa wilayah pesisir Indragiri Hilir, sagu tumbuh dengan baik.  Sagu menjadi pilihan alternatif makanan pokok selain beras bagi masyarakat pesisir, seperti di Kecamatan Mandah. Konsumsi sagu di wilayah ini sudah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat setempat.

Selain tanaman pangan, Kabupaten Indragiri Hilir juga memiliki keragaman tanaman hortikultura lokal yaitu buahan-buahan seperti manggis, kuini dan duku. Ketiga jenis buah-buahan ini memiliki cita rasa khas yang berbeda dengan komoditas sejenisnya yang ada di daerah lain. Buah-buahan ini tumbuh subur dan menghasilkan produksi yang tinggi. Kualitas yang baik menyebabkan permintaan akan buah-buahan ini cukup tinggi, sehingga sudah dijual sampai keluar daerah dan menjadi salah satu komoditas unggulan.

Selain pangan dan hortikultura, hasil perikanan juga menjadi komoditas unggulan di kabupaten Indragiri Hilir. Kondisi geografis yang di kelilingi oleh sungai menjadikan daerah ini kaya akan hasil perikanan. Hasil perikanan utama yang menjadi unggulan adalah ikan endemik, udang dan beberapa jenis kerang. Hasil perikanan seperti udang nenek, siput laut dan ikan bakut bahkan sudah diekspor ke beberapa negara seperti Singapura dan Malaysia. Hasil perikanan juga menjadi bahan baku berbagai industri UMKM khas daerah. Produk olahan hasil perikanan juga telah dikirim dan dIjual ke berbagai wilyah di Indonesia, seperti amplang dan kerupuk udang.

Berbagai potensi dan keunggulan pangan lokal tersebut, baik itu tanaman pangan, hortikultura dan hasil perikanan diharapakan dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan. Peran pangan lokal dapat terus ditingkatkan dalam mewujudkan ketahanan pangan di daerah. Pangan lokal tidak hanya menjadi pelengkap saja tetapi mampu mencukupi kebutuhan pangan daerah sebagai pondasi ketahanan pangan nasional.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pangan lokal adalah melestarikan varietas pangan lokal, meningkatkan produktivitas, menerapkan pertanian berkelanjutan, misalnya rotasi tanaman dan penggunaan pupuk organik, memperkuat peran petani lokal malalui Pelatihan, akses modal dan teknologi, mengembangkan pengolahan pangan lokal agar memiliki nilai tambah sehingga usia simpan lebih lama, mengurangi kehilangan pangan selama proses produksi hingga konsumsi, mendorong konsumsi pangan lokal melalui edukasi masyarakat, melindungi lahan pertanian dari alih fungsi yang berlebihan dan membangun kerja sama antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga ketahanan pangan.

Komentar